Lembaga Pendidikan Jurnalistik

This blog will present my news stories (in Bahasa and English) , my journalistic teaching materials, my opinions , as well as my personal stories.

Tuesday, October 21, 2008

Selamat Jalan Bang Reinhart Simandjuntak

Turut berduka cita untuk "kepergian" Bang Reinhart Simandjuntak.

Saya kenal beliau saat pertama kali terjun sebagai pewarta sekitar tahun 1992. Saya bertemu beliau dalam berbagai liputan di "beat" Departemen Sosial. Saat itu, saya merasakan kepribadian Bang Reinhart sangat hangat sekali terhadap semua rekan-rekannya, tanpa memandang yang senior ataupun junior, dari media besar atau kecil.

Sebagai pewarta junior , saat itu saya banyak belajar dari beliau. Bang Reinhart bukan tipe orang yang pelit berbagi ilmu dan pengalaman.

Ada satu kenangan lucu sekitar tahun 1993 bersama Bang Reinhart. Saat itu Depsos menggelar sebuah acara seminar. Bang Reinhart diminta menjadi salah satu moderator untuk salah satu sessi diskusi. Entah bagaimana, sebelum seminar dimulai , Bang Reinhart tahu bahwa honor yang diterima ternyata dibedakan, jauh lebih kecil dibanding honor yang diterima oleh seorang moderator lainnya. Kebetulan si moderator tersebut adalah seorang pejabat. Bukan main kesalnya si Abang ini.

Tapi hebatnya, Bang Reinhart ternyata tetap mampu mengendalikan perasaannya. Dia tetap memimpin sessi diskusi tersebut dengan baik walau hatinya geram sekali. Tapi setelah diskusi selesai ?...Hehe, dia keluar ruangan dan panitia langsung dilabrak karena dianggap telah bersikap diskriminatif dengan membedakan honor moderator yang berprofesi wartawan dengan pejabat.

Sekitar tahun 1993-1994, saya ditugaskan di "beat" lain, yang terkait sektor ekonomi jasa. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi bertemu beliau karena tampaknya beliau tetap di "beat" Depsos .

Hampir 15 tahun berlalu, saya tidak pernah bertemu lagi. Kalau ada perlu penting terkait tugas jurnalistik, saya terkadang masih kontak via telepon meminta saran-saran beliau. Tapi setelah beliau pensiun , ditambah kesibukan pekerjaan saya , praktis saya tidak pernah lagi kontak si Abang.

Hingga pagi ini, saat saya buka koran Kompas, saya baru tahu si Abang ternyata telah "pergi". Selamat jalan Bang Reinhart. Saya akan tetap mengenang persahabatan kita selamanya.

Salam, Yuri Alfrin Aladdin
http://yurihalla. blogspot. com

--- On Tue, 10/21/08, Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id> wrote:From: Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id>Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Reinhart Simandjuntak Telah TiadaTo: Forum-Pembaca- Kompas@yahoogrou ps.com

Date: Tuesday, October 21, 2008, 8:41 PMJakarta, Kompas - Wartawan harian Kompas (1973- 2005), ReinhartSimandjuntak (70), Selasa (21/10) pukul 20.09, meninggal dunia diRumah Sakit Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur.

Almarhum meninggal setelah dirawat sejak Rabu pekan lalu akibat penyakit jantung. Menurut cerita putranya, Johson Simandjuntak, almarhum dioperasi padaJumat tengah malam, tetapi kondisi kesehatan almarhum terus merosot.

Menurut Johnson, jenazah almarhum akan disemayamkan di Rumah DukaRumah Sakit TNI AD Gatot Subroto sebelum dimakamkan Kamis besok diTempat Pemakaman Umum Kali Mulia, Depok, Jawa Barat.

Reinhart dilahirkan di Jawa Tonga, Pematang Siantar, Sumatera Utara,16 Februari 1938. Ia menjadi wartawan Kompas sejak tahun 1973. Mantan guru sebuah SMA di Jakarta ini banyak berkecimpung dalam peliputankegiatan-kegiatan di Departemen Penerangan dan Angkatan BersenjataRepublik Indonesia pada masa Orde baru.

Johnson, putra sulungnya yang juga menjadi wartawan, melihat ayahnyasebagai sosok yang keras. Namun, Reinhart juga ayah yang lembut.Reinhart meninggalkan istri, Oktorida Selly Diana Hutabarat, tiga anakyang semuanya sudah bekerja serta empat cucu. (OSD/HAR)

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/10/22/ 00144714/ reinhart. simandjuntak. telah.tiada

Labels: , ,

Monday, October 20, 2008

Pergelaran Musik Klasik di Kuburan, Siapa Takut?

Yuri Alfrin Aladdin

Jakarta (ANTARA News) - Pernahkan Anda membayangkan akan menghadiri sebuah pergelaran musik klasik di tengah lahan kuburan pada malam hari?

Ya, inilah yang terjadi Sabtu (18/10) malam. Sebuah orkestra bertajuk "Sunset Serenade" disajikan di areal pemakaman "San Diego Hills (SDH) Memorial Park" di Karawang Barat, Jawa Barat, yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan dengan mobil via jalan tol dari Jakarta.

"The Lippo Karawaci Community Choir and Orchestra" (LKCCO) di bawah pimpinan maestro Antonius Priyanto dengan jumlah personil 60 orang menggelar acara tersebut di dalam ruangan "wedding chapel" (kapel tempat perkawinan) , yang letak bangunannya di tengah areal pemakaman SDH.

Adakah penonton untuk sebuah acara pagelaran musik kamar yang diselenggarakan di tengah-tengah lahan kuburan yang jaraknya juga sekitar 20 kilometer dari Jakarta dengan harga per tiket Rp250 ribu ?

Jangan salah. Ruang kapel tempat pergelaran yang berkapasitas sekitar 250 penonton tersebut dipadati penonton. CEO Lippo Group James Riady, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Miranda Gultom, serta Bupati Karawang Dadang S.Muchtar tampak hadir dan menikmati perhelatan tersebut.

"Saya sebetulnya bukan penggemar musik klasik. Datang ke sini karena kebetulan mendapat tiket ini dari bos di kantor, yang membeli beberapa lembar tiket tersebut. Saya ingin tahu, mendengar pagelaran musik klasik di tengah kuburan seperti apa ya?" kata seorang wanita eksekutif sebuah perusahaan properti yang duduk di barisan belakang dekat wartawan.

"Takut? Wah nggak tuh...rasanya seperti bukan di tengah kuburan ya? Sepertinya indah begitu...Jangan-jangan arwah-arwah di sini juga senang menikmati pagelaran ini..haha..," kata wanita yang menolak disebut namanya tersebut dengan bercanda.

Acara tersebut dimulai pukul 19.00 WIB dengan lagu pembuka berjudul "Serenade for Strings : Eine Kleine Nachtmusik" karya Wolfgang Amadeus Mozart (1766-1791) yang ditampilkan oleh Lippo Karawaci Community Orchestra.

Kepiawaian para personilnya yang sebagian besar masih remaja, membuat para pendengarnya merasa seolah-olah berada di sebuah taman indah pada pagi musim semi di Eropa, bukan malam hari dan di tengah kuburan pula.

Menyusul kemudian penyajian kelompok paduan suara anak-anak "Lippo Karawaci Children's Choir" yang menyanyikan lagu, antara lain. "Everybody Has Music Inside" karya Greg Sceles dan David Kirschener dan "I Never Touched a Rainbow" karya Ruth Atman.

Berbagai karya musik klasik lainnya juga meluncur mengalun indah dan mendapat tepuk tangan meriah. Antara lain lagu "Two Nordic Melodies Op.63 No.1 karya Edward Grieg (1843-1907) dan lagu Post Card Greeting : Indonesian Folk Song Medley" karya Werner Schultz (1952-sekarang).

Acara ditutup sekitar pukul 21.00 WIB dengan lantunan paduan suara "Lippo Karawaci Community Choir" yang menyanyikan lagu "Climb Every Mountain". Lagu tersebut terkenal karena menjadi salah satu lagu "sound track" film termahsyur sepanjang masa "The Sound of Music".

"Karena kapasitas ruangan yang terbatas, hanya sekitar 250 tempat duduk, maka kami hanya menjual tiket sebanyak 250 lembar. Harga per tiket Rp250 ribu. Semuanya habis terjual," kata Chief Executive Officer (CEO) PT.Lippo Karawaci Tbk, Viven G.Sitiabudi kepada wartawan sesaat sebuah pagelaran dimulai.

Perhelatan ini memang sepenuhnya dibiayai oleh kelompok usaha Lippo. SDH Memorial Park merupakan proyek properti kelompok usaha Lippo.
Dengan bangga Viven mengatakan bahwa pembeli tiket pagelaran tersebut kebanyakan adalah para pembeli unit-unit lahan makam SDH, para mitra bisnis Lippo, serta penggemar musik klasik.

Mengapa harus menggelar konser musik klasik di lahan kuburan ?

"Tujuannya adalah untuk mempopulerkan musik klasik sekaligus mengubah persepsi masyarakat yang menganggap areal pemakaman selalu merupakan tempat yang menyeramkan. Di SDH ini Anda bisa lihat dan rasakan sendiri, bahwa pemakaman di sini merupakan tempat yang indah, penuh kenangan dan cocok sebagai tempat peristirahatan terakhir orang yang kita cintai," kata Viven berpromosi.

Sementara itu, Direktur SDH Manny Francisco mengatakan bahwa pihaknya sangat bangga karena SDH merupakan taman pemakaman modern pertama di Indonesia yang memiliki family center (tempat hiburan keluarga) dengan fasilitas paling lengkap.
Antara lain terdapat bangunan multifungsi bergaya Mediterania, restoran kelas bintang lima, danau seluas delapan hektare, serta kolam renang.

Pembangunan proyek seluas 500 hektare tersebut telah dimulai sejak pertengahan 2006 dan diperkirakan akan selesai dan terjual seluruhnya pada tahun 2013, dengan perkiraan mampu menyediakan sebanyak 1,2 juta lubang makam.

"Ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia bahkan di Asia ada penyelenggaraan konser musik klasik di tengah lahan pemakaman. Kami harap perhelatan ini akan menjadi pengalaman seumur hidup yang tak terlupakan bagi para penonton," kata Manny Francisco.

Ide pagelaran musik klasik di tengah lahan kuburan memang agak mencengangkan. Bukan hanya bertujuan mempopulerkan musik klasik, tetapi juga bermotif bisnis untuk makin mendorong penjualan unit-unit lahan pemakaman tersebut.

Namun demikian, ide-ide kreatif yang menggabungkan pertunjukan seni dengan strategi pemasaran properti lahan pemakaman seperti ini patut dihargai. Inilah langkah terobosan baru di tengah krisis ekonomi global saat ini.

COPYRIGHT © 2008

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/8961

http://www.antara.co.id/arc/2008/10/20/pergelaran-musik-klasik-di-kuburan-siapa-takut/

Labels: , , ,

Thursday, October 09, 2008

Generasi Platinium, Generasi Akrab Teknologi

Oleh Yuri Alfrin Aladdin

Jakarta (ANTARA News)- Halla Puspita (11) tampak begitu serius di depan komputer laptopnya, seolah tenggelam dalam dunianya tanpa menghiraukan situasi di sekelilingnya.

Satu jam kemudian, bocah perempuan berkacamata minus 3,5 murid kelas 5 program kelas unggulan SD Tugu Ibu, Depok, Jawa Barat, itu memanggil orangtuanya.

Dia menunjukkan hasil karyanya yang membuat orangtuanya terheran-heran, yakni sebuah tulisan dongeng mengenai kucing pengelana yang disajikan dengan menggunakan program komputer "power point" di layar komputer.

Rentetan "slide" dongeng si kucing pengelana disajikannya dengan kata-kata yang indah, dipadukan dengan gambar-gambar lucu serta efek-efek tampilan huruf dan suara yang menakjubkan.

Hal yang membuat orangtuanya terkagum-kagum, karena Halla sebelumnya hanya diajarkan sekitar lima menit mengenai dasar-dasar program "power point" oleh orangtuanya, tapi dengan cepat bocah tersebut mampu mengembangkan sendiri pengetahuannya dan menciptakan sebuah karya yang orangtuanya sendiri belum tentu mampu membuatnya.

Kemampuan tinggi dalam menyerap ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) pada anak-anak, seperti halnya pada Halla yang lahir tahun 1996, makin lama makin menjadi fenomena tersendiri pada anak-anak seusianya.

Hal itu terutama terlihat pada anak-anak kelas menengah atas di kota-kota besar kelahiran tahun 2000 ke atas atau yang kini oleh banyak pakar psikologi dunia dijuluki sebagai "generasi platinum".

Psikolog anak dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri kepada ANTARA mengatakan bahwa anak-anak generasi platinum memang memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodir informasi sehingga mereka memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya.

"Generasi platinum yang lahir tahun 2000 ke atas atau abad- 21 merupakan hasil `produksi` orangtua yang lahir di tahun 1970-an, yaitu generasi yang sudah memiliki keinginan untuk mengoptimalkan potensinya," kata dia.

Penelitian NPD Group

Hasil penelitian lembaga riset pasar ritel dan konsumen global, NPD Group, yang berkedudukan di New York, AS, pada pertengahan 2007 --seperti dikutip situs Wireless World Forum (http://kr.w2forum.com) -- menyebutkan bahwa usia rata-rata anak-anak mulai menggunakan peralatan elektronik telah menurun dari 8,1 tahun pada 2005 menjadi 6,7 tahun pada tahun 2007.

Jika dirata-rata, usia anak-anak mulai menggunakan peralatan elektronik adalah tujuh tahun dan hal itu membuktikan bahwa anak-anak yang lahir di abad ke-21 lebih mudah dan lebih cepat dalam mengadaptasi arus teknologi informasi yang berkembang cepat.

"Inilah salah satu ciri-ciri khas anak-anak yang lahir pada Generasi Platinum," kata Alzena Masykouri menanggapi hal tersebut.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan televisi dan komputer adalah perangkat yang paling dini dikenal anak-anak, yaitu pada usia 4 atau 5 tahun.
Sementara radio satelit dan alat pemutar musik digital portabel baru mereka gunakan pada usia sekitar 9 tahun.

Hasil penelitian NPD menyebutkan bahwa sejak survei diluncurkan pada tahun 2005, usia awal penggunaan barang-barang elektronik makin menurun, terutama pada penggunaan alat pemutar DVD dan ponsel.

Anak-anak menggunakan perangkat elektronik rata-rata tiga hari per minggu, sementara perangkat-perangkat yang paling banyak digunakan adalah televisi (5,8 hari per minggu), ponsel (4,3 hari per minggu) dan perekam video (4,1 hari per minggu).

Data ini dikumpulkan melalui sebuah survei NPD di AS melalui internet yang diwakili orang dewasa usia 25 tahun atau lebih dan anak-anak berusia empat hingga empat belas tahun.
Kendati survei tersebut hanya menjangkau responden warga AS, namun hasil ini nampaknya juga valid untuk menjadi rujukan bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, seiring dengan meningkatnya fenomena kecepatan anak-anak dari keluarga kelas menengah atas di perkotaan dalam menyerap iptek sekaligus akrab dengan teknologi informasi.

Dampak Negatif Teknologi

Namun demikian, pengenalan teknologi yang begitu akrab kepada anak-anak juga belum tentu selamanya baik. Banyak aspek yang juga perlu dipertimbangkan orang tua, seperti halnya pada televisi.

"Televisi memiliki dampak positif dan negatif bagi anak. Tetapi membiarkan anak menonton televisi sepanjang hari, pastinya akan menurunkan tingkat kecerdasan anak," kata dr Hardiono D Pusponegoro SpA (K), dokter spesialis anak konsultan neurology dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada sebuah seminar di Jakarta, akhir Nopember 2007.

Dia mengatakan bahwa dengan terlalu lama menonton televisi, otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah.

Sementara situs portal berita www.arthazone.com pada sebuah artikel berjudul "Ajak Anak Bersahabat Dengan Teknologi" (11/07/2007) mengangkat kisah keterkejutan seorang wanita karir saat mengetahui putranya yang berusia sembilan tahun mengoleksi gambar-gambar kartun wanita berbusana nyaris bugil di ponselnya.

Disebutkan bahwa kecemasan terhadap teknologi di kalangan orang tua tampaknya semakin melonjak karena informasi khusus dewasa bermuatan pornografi dari berbagai media teknologi kian bebas masuk dan mudah diakses, di antaranya melalui televisi, internet, dan ponsel.
Bagaimana `kita` bisa menjaga agar keakraban anak-anak -- terutama generasi platinum yang memiliki kecerdasan tinggi ini -- dapat tetap berada di jalur yang benar?

Barangkali ini menjadi tugas berat orang tua dan para guru. Lingkungan keluarga serta sekolah yang baik akan dapat melindungi generasi platinum dari berbagai dampak negatif teknologi sehingga diharapkan mereka dapat menjadi manusia-manusia unggul pemimpin bangsa di masa depan.(*)

COPYRIGHT © 2007
http://www.antara.co.id/arc/2007/12/20/generasi-platinium-generasi-akrab-teknologi/

Labels: , ,

Generasi Baru Abad ke-21, Generasi Platinum

Oleh Yuri Alfrin Aladdin

Jakarta (ANTARA News) - Ketika masyarakat masih terpana dengan kehadiran generasi Y (Milenium), mereka tidak menyadari akan munculnya sebuah calon generasi baru yang lahir pada abad ke-21 yang lebih canggih dari generasi Y. Merekalah Generasi Platinum, yang lahir sesudah tahun 2000.

Seperti apakah ciri-ciri, kesukaan, sikap, aspirasi mereka? Faktor-faktor dan kejadian-kejadian apa saja yang membentuk kepercayaan dan tingkah laku mereka?

Psikolog dari Universitas Paramadina, Alzena Masykouri, kepada ANTARA News mengatakan bahwa generasi itu lahir di masa keterbukaan teknologi, keterbukaan cara berpikir, keterbukaan berperilaku, serta ketersediaan sarana pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

"Penamaan sebagai Generasi Platinum oleh para pakar dunia sebetulnya cuma istilah saja, untuk membedakan generasi ini dari sebelumnya. Platinum sendiri mengacu pada sesuatu yang mewah dan elegan," kata dia.

Dikatakannya, pada awalnya, hidup generasi yang disebut Baby Boomers. Generasi itu merupakan kelompok masyarakat yang hidup setelah Perang Dunia II yaitu antara 1946 dan 1964. Generasi ini diberi nama Baby Boomers karena pada rentang waktu generasi ini hidup, terjadi peningkatan jumlah kelahiran di seluruh dunia.

Anak-anak yang terlahir di generasi ini merupakan golongan masyarakat yang mulai mengenal televisi dengan beragam acara yang berbeda-beda, seperti Perang Vietnam, pembunuhan John F Kennedy, Martin Luther King Jr, dan Robert F. Kennedy. Golongan masyarakat ini mengenal musik, sebagian besar adalah Rock n Roll, sebagai cara untuk mengekpresikan identitas generasi mereka.

Selanjutnya, lahir Generasi X yang lahir antara tahun 1965 hingga 1980. Anak-anak yang lahir pada generasi ini tumbuh dengan video games dan MTV, dan menghabiskan masa remajanya di tahun 80-an.

Anak-anak remaja generasi X memiliki ciri-ciri, kurang optimistis terhadap masa depan, sinis, skeptis, tidak lagi menghormati nilai-nilai dan lembaga tradisional, serta tidak memiliki rasa hormat kepada orang tua mereka.

Di awal 90-an, media menampilkan Generasi X secara fisik sebagai generasi yang senang memakai kemeja flannel, suka menyendiri, banyak tindikan di tubuh, dan lebih memilih bekerja di restoran.

Generasi Y, atau yang lebih dikenal sebagai Generasi Millennium, tumbuh seiring dengan banyak kejadian yang mengubah dunia, di antaranya berkembangnya komunikasi massa, serta internet.

Terminologi Generasi Y diberikan kepada anak-anak yang lahir dari tahun 1981 - 1995. Anak-anak remaja yang lahir pada generasi ini harus merasakan tingginya biaya pendidikan dibandingkan generasi sebelumnya.

Generasi ini cenderung menuntut, tidak sabar, serta buruk dalam berkomunikasi dengan sesama. Survei yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa generasi ini memiliki kemampuan mengeja dan bahasa yang buruk.

Generasi Y yang telah bekerja menunjukkan sikap yang cuek dan senantiasa bertentangan dengan peraturan kantor. Namun, generasi ini boleh dipuji untuk energi dan semangat bekerjanya yang luar biasa.

Apakah generasi berhenti sampai di sini? Bagaimana dengan anak-anak yang lahir sesudahnya, yang lahir dengan segala ketersediaan sarana serta kemajuan teknologi?
"Ya, inilah anak-anak Generasi Platinum. Generasi Platinum adalah terminologi yang diberikan kepada anak-anak yang lahir pada tahun 2000 ke atas atau awal abad ke-21," kata dia.

Menurut Masykouri, jika diamati anak-anak kelahiran tahun 2000 memiliki karakter unik yang lebih ekspresif dan eksploratif selaras dengan arah perkembangan zaman.

Bila diamati, kata dia, anak-anak Generasi Platinum memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengakses dan mengakomodir informasi sehingga mereka memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Kelak, mereka pun dapat menggunakan potensinya untuk bertahan hidup. Bahkan juga menjadi manusia yang berkualitas dan produktif.

Generasi sebelumnya memang sudah memiliki tingkat literasi teknologi yang tinggi, namun mereka hanya sebatas sebagai pengguna saja. Generasi Platinum adalah golongan yang memiliki orientasi sekaligus kemampuan berkarya sehingga dapat berperan sebagai produsen, kreator, ataupun inisiator.

"Sesungguhnya ini tidak hanya untuk aspek teknologi saja, tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan," kata dia.

Namun, kata Masykouri, jika ditelaah anak yang lahir pada abad ke-21 adalah hasil `produksi` orang tua (lahir di tahun 70-an), yaitu generasi yang sudah memiliki keinginan untuk mengoptimalkan potensinya. Orang tua mereka adalah umumnya orang-orang yang berpendidikan tinggi.

Alhasil, kemunculan generasi yang berbeda tak lepas dari pengaruh orangtuanya yang memiliki pandangan terbuka, dan lebih mudah menerima perubahan, terutama teknologi.

Sementara itu, Ketua Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) Dr. Paulus Wirutomo mengatakan bahwa pemisahan generasi tidak bisa dipakemkan karena meliputi banyak aspek seperti kondisi sosial, ekonomi, termasuk informasi.

Namun, perkembangan generasi bisa saja terjadi jika terjadi fenomena sosial yang mewabah artinya tidak dilihat dari lingkup yang kecil.

"Karakter manusia di setiap generasi tidak berbeda jauh karena manusia dibekali dengan kemampuan adaptasti. Namun ada perkembangan generasi. Yang membedakan individu di setiap generasi ialah `life skills` yang dimiliki," kata Paulus Wirutomo.

Hal senada dikemukakan sosiolog dari UI Drs Johannes Frederik Warouw MA. Dia mengatakan bahwa wajar terjadinya generasi pada setiap zaman akibat nilai baru dan nilai lama atau modifikasi kedua nilai itu.

Setiap generasi, kata dia, pasti memiliki karakteristik manusia yang berbeda karena mereka selalu berhadapan dengan pandangan yang berbeda pula.

"Perkembangan itu wajar, tetapi keberadaannya perlu diawasi berkaitan dengan nilai. Karena, bila tidak diawasi bisa jadi malah menghancurkan nilai-nilai yang sudah ada," katanya menambahkan. (*)
COPYRIGHT © 2007

http://www.antara.co.id/arc/2007/12/7/generasi-baru-abad-ke-21-generasi-platinum/

http://harysmk3.wordpress.com/2007/12/18/generasi-baru-abad-21-generasi-platinum/

Labels: ,

Menguak Keberhasilan Strategi Lippo Jualan Lahan Makam

Oleh Yuri Alfrin Aladdin

Jakarta (ANTARA News)- Majalah keuangan internasional berbasis di London, Inggris, Euromoney, awal pekan ini mengumumkan bahwa PT Lippo Karawaci, Tbk., kembali memenangi "Euromoney Liquid Real Estate Award 2007" sebagai pengembang berprestasi terbaik Indonesia.

Salah satu pertimbangannya adalah keunikan strategi dan kreativitas bisnis Lippo Karawaci (LK), seperti terlihat pada produk terbarunya yang ditawarkan sejak Januari 2007, yakni penjualan lahan makam.

Deputy Publisher Euromoney, Michael Dragoyevich, menjelaskan bahwa kompetisi kali ini berlangsung sangat ketat dan cukup alot dalam hal penentuan pengembang yang berprestasi terbaik di setiap negara.

Menurut Dragoyevich, Euromoney menilai keunggulan LK terutama disebabkan oleh keunikan dalam strategi bisnis, pengembangan produknya, serta penuh kreativitas, antara lain dengan meluncurkan produk properti terbaru, SanDiego Hills Memorial Park (SDH), sebuah taman pemakaman modern seluas 500 hektare yang dikombinasikan dengan fasilitas rekreasi untuk keluarga di Karawang Barat, Jawa Barat.

Mungkin bagi banyak kalangan masyarakat agak terheran-heran, bagaimana mungkin sebuah perusahaan properti ternama seperti Lippo Karawaci -- salah satu anggota kelompok usaha Lippo yang didirikan Mochtar Riyadi -- terjun ke bisnis properti lahan makam.

"Saya pun awalnya sering ditertawakan rekan-rekan, masa jualan lahan kuburan? Tetapi, dengan tekad keras kami bisa membuktikan bahwa produk kami ini sangat bermanfaat bagi pembeli, sebagai persiapan saat mereka nanti dipanggil Yang Maha Kuasa. Bahkan properti lahan makam dapat dianggap sebagai suatu investasi menarik. Ini terbukti dari hasil penjualan kami," kata Presdir SDH Memorial Park and Funeral Homes, Rudy Nanggulangi.

Data LK menunjukkan, sejak diluncurkan Januari 2007 hingga awal Oktober 2007 telah sukses terjual 15.000 lahan makam atau 80 persen dari total lahan makam yang ditawarkan pada tahap I seluas 25 hektare.

"Data penjualan ini menunjukkan telah terjadi perubahan paradigma masyarakat Indonesia dari 'at need' atau membeli lahan makam saat anggota keluarga meninggal dunia, menjadi 'pre-need' atau membeli lahan makam untuk digunakan pada saat yang akan datang," kata Rudy.

Menarik untuk dikaji, bagaimana peluang bisnis lahan makam serta strategi LK dalam menjaring calon pembeli.

Ide Mochtar Riady

Rudy Nanggulangi mengatakan bahwa proyek pemakaman eksklusif itu bermula dari ide pendiri Lippo Group Mochtar Riady yang prihatin melihat belum adanya tempat pemakaman umum di Indonesia yang nyaman, rapih, memberikan kedamaian dan hiburan bagi para pengunjungnya.

Disebutkan bahwa SDH Memorial Park di Karawang Barat memiliki kontur asli berbukit dan berlembah serta dirancang jauh dari kesan tempat pemakaman umum biasa, karena didesain sebagai kawasan yang penuh dengan berbagai fasilitas modern melebihi kebutuhan sebuah taman pemakaman.

Dia bahkan mengklaim bahwa "memorial park" tersebut tidak hanya yang pertama di Indonesia dan bahkan dapat dikatakan sebagai pertama sedunia yang memiliki "family center" (tempat hiburan keluarga) dengan fasilitas paling lengkap, antara lain bangunan multifungsi bergaya

Mediterania, restoran kelas bintang lima, danau seluas delapan hektare, serta kolam renang.
Pembangunan proyek tersebut telah dimulai sejak pertengahan 2006 dan diperkirakan selesai dan terjual seluruhnya pada tahun 2013, dengan perkiraan mampu menyediakan sebanyak 1,2 juta lubang makam.

Pihak Lippo menargetkan pangsa pasarnya pada masyarakat sekitar Bandung dan Jabodetabek yang diyakini memiliki pangsa besar. Sebagai contoh, di Jakarta saja, tingkat kematian warganya paling sedikit 110 orang per hari.

"Pembelian lahan untuk makam merupakan salah satu investasi terbaik, apalagi dengan lahan pemakaman yang makin menciut di Bandung dan Jabodetabek, sehingga makin lama makin sulit menemukan lahan untuk tempat pemakaman," kata Rudy.

Sementara itu, Associate Director SDH Memorial Park, Suziany Japardy, mengatakan bahwa harga lahan pemakaman yang ditawarkan adalah mulai dari yang termurah Rp3,2 juta per lubang makam (bukan per meter persegi) dengan syarat dan lokasi tertentu, hingga termahal Rp32 juta per meter persegi di lokasi tertentu yang dianggap terbaik.

"Jadi, meskipun berbeda dari tempat pemakaman umum tradisional, SDH sebetulnya tidak terlalu mahal karena menyediakan juga lahan makam dengan harga murah Rp3,2 juta per lubang makam, dengan jumlah terbatas serta dengan kondisi tertentu. Bandingkan dengan harga lahan pemakaman tradisional di Jakarta yang rata-rata Rp4,5 juta per lubang makam," kata Suziany Japardy.

Dari total lahan seluas 500 hektare, pihaknya dapat menyediakan total 1,2 juta lubang makam.
Menurut Suziany, SDH Memorial Park menawarkan beberapa keuntungan pada pembelinya, antara lain tempat pemakaman dijamin permanen, tidak akan terkena penggusuran, tanpa biaya perawatan makam untuk selama-lamanya, serta mendapatkan bonus asuransi jiwa bagi pembeli berusia maksimum 60 tahun.

Selain itu, "memorial park" tersebut juga memberikan hak kepemilikan berupa surat kolektif makam yang bisa dipindahtangankan dan diadministrasikan oleh biro administrasi efek Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Strategi Penjualan

Keberhasilan SDH dalam mendorong penjualan lahan makam tersebut agaknya tidak terlepas dari tangan dingin Suziany Japardy, alumnus Fresno State University, California, AS, jurusan "marketing" (pemasaran).

Suziany, yang sebelumnya sempat berkarir selama 17 tahun di Lippo Bank di bidang "marketing", ternyata memiliki jurus-jurus tersendiri untuk mampu menggaet calon pembeli.
Pencitraan produk dimulai dengan pemberian nama produk properti "SanDiego Hills" yang memang sengaja dipilih untuk tujuan komersial. Nama ini, kata dia, diharapkan dapat menarik hati pembeli karena mengesankan keindahan kawasan SanDiego di AS.

Langkah diferensiasi produk (differentiation of product) lainnya dilakukan dengan membangun Family Center di SDH. "SDH merupakan satu-satunya taman pemakaman di Indonesia, bahkan di dunia, yang dilengkapi fasilitas 'family center'. Taman pemakaman terkenal Arlington di Virginia, AS, pun tidak dilengkapi fasilitas tersebut," kata dia.

Strategi menjaring calon pembeli juga dilakukan dengan rajin melakukan presentasi di perusahaan-perusahaan, terutama kepada para calon pensiunan, serta kelompok-kelompok pengajian Islam dan jemaat Nasrani.

Harga yang ditawarkan juga menarik, karena diiming-imingi diskon ganda. Sebagai contoh, harga untuk sebuah lahan makam di lokasi "Heavenly Garden" (untuk kaum Muslim) pada kelompok "mansion charity" ditawarkan dengan harga Rp33,646 juta.

Terdapat diskon ganda yang ditawarkan untuk pembeli, pertama, pembeli mendapat diskon investor mulai Oktober 2007 sebesar 45 persen, sehingga harga penawaran menjadi Rp33,646 juta - (Rp33,646 juta X 45 %)= Rp18.505.300. Setelah itu, masih ada lagi potongan harga yang disebut dengan diskon keluarga (family discount), tergantung dari jumlah pembelian lahan makam.

Bila hanya membeli satu lahan makam, yang bersangkutan akan mendapat 0 % diskon, dua lahan makam sebesar 10 %, tiga lahan makam sebesar 20 %, empat lahan sebesar 30 %, lima lahan sebesar 40 %, enam lahan sebesar 50 %, tujuh lahan sebesar 55%, delapan lahan sebesar 60 %, sembilan lahan sebesar 65 %, 10 lahan sebesar 70 %, dan seterusnya untuk pembelian lebih dari 10 lahan makam mendapat diskon sama, sebesar 70 %.

Misalkan si pembeli berhasil mengajak rekan-rekan lainnya, sehingga mereka sekaligus membeli sebanyak 10 lahan makam, maka harga net yang ditawarkan menjadi Rp18.505.300 - (Rp18.505.300 X 70 %) = Rp 5.551.590.

Bayangkan, dari harga awal yang ditawarkan sebesar Rp33,646 juta, setelah mendapat diskon ganda, akhirnya harga neto yang dibayar pembeli hanya Rp5.551.590 per lahan makam.
Ada pertanyaan lain yang mengganjal, yakni bagaimana mungkin SDH mampu untuk tidak mengenakan biaya pemeliharaan, untuk selama-lamanya, kepada para pemilik lahan makam?

"Caranya, dari setiap pendapatan atas penjualan lahan makam, kami sisihkan sebanyak 20 persen ke lembaga 'trust fund' (dana perwalian). Hasil keuntungan yang diperoleh dari 'trust fund' itu cukup untuk membiayai pemeliharaan lahan makam," kata Suziany. (*)
COPYRIGHT © 2007

http://www.antara.co.id/arc/2007/10/8/menguak-keberhasilan-strategi-lippo-jualan-lahan-makam/

Labels: , , ,

"Sandeq Race 2007" dan Kisah Penculikan Pangeran Bali

Sunday, 19 August 2007

Oleh Yuri Alfrin Aladdin

Jika masyarakat Madura terkenal memiliki karapan sapi, orang Sumba terkenal dengan Pasola -- melempar lembing kayu sambil memacu kuda -- maka etnis Mandar dari Sulawesi Barat (Sulbar) terkenal dengan lomba balap perahu layar tradisional sandeq.

Perlombaan balap perahu tradisional (Sandeq Race) 2007 digelar untuk ke-10 kalinya di Mamuju, Sulbar, Jumat (17/8/2007) dalam suasana perayaan HUT ke-62 Kemerdekaan RI.

Lomba perahu sandeq itu diikuti 53 perahu, termasuk dua perahu dari Australia dan satu perahu dari Jepang. Para peserta akan berlomba dengan mengarungi laut sepanjang 300 mil dari Mamuju (Sulbar) ke Makassar (Sulsel) selama 10 hari hingga 26 Agustus
2007.

"Sandeq Race 2007" dibuka oleh Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh, didampingi Ketua Panitia Horst H. Liebner, seorang peneliti asal Universitas Koeln, Jerman, yang membuat penelitian mengenai pembuatan perahu Sandeq tahun 1995, sekaligus penggagas lomba tersebut.

Liebner hingga saat ini masih bertugas di Indonesia sebagai peneliti pada Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Liebner melakukan penelitian mengenai perahu sandeq pada tahun 1995 karena keunikan serta makin jarangnya pembuatan dan penggunaan perahu tradisional tersebut oleh para nelayan setempat.

Konon pada masa lampau para nelayan Sulawesi bahkan mampu berlayar menggunakan perahu ini hingga ke Madagaskar. Para nelayan saat ini lebih suka menggunakan kapal motor dibanding perahu sandeq untuk mencari ikan, karena kapal motor memiliki kecepatan lebih tinggi.
Perahu Sandeq merupakan perahu layar berbadan ramping dengan cadik pengimbang serta bermuatan delapan orang. Panjang perahu antara 10-14 meter dengan kecepatan sekitar 12 mil per jam.

Lomba ini menarik. Penonton di sepanjang tepi pantai yang dilewati perahu-perahu tersebut mendapat suguhan atraksi menarik, antara lain awak perahu yang disebut "pattimbang" melompat-lompat tanpa jatuh di cadik kiri-kanan perahu, saat perahu masih berlayar dengan kecepatan tinggi.

Hal itu dilakukan "pattimbang" dalam upaya menjaga keseimbangan perahu agar tidak terbalik. Tidak pelak lagi, para awak perahu haruslah para pelayar yang memang memiliki keterampilan tinggi dalam mengendalikan perahu layar bertubuh ramping itu.

Menyaksikan lomba sandeq akan membangkitkan kesadaran betapa suku Mandar
dari Sulbar merupakan keturunan para pelayar tangguh sejak berabad-abad lalu.

Kalaupun ada yang kurang dari penyelenggaraan "Sandeq Race 2007" tersebut yakni minimnya kedatangan wisatawan domestik dan asing ke Sulbar untuk menyaksikan. Sebagian besar penonton merupakan masyarakat Sulbar sendiri. Mengapa Sandeq Race tidak mampu menjaring kedatangan wisatawan domestik dan asing?


Pariwisata Sulbar

Lomba sandeq hanya salah satu dari sekian banyak unggulan kalender kegiatan dan obyek turisme yang sebetulnya berpotensi dijual oleh Pemprov Sulbar.

Beberapa obyek wisata menarik lainnya yang dipastikan dapat menarik kunjungan wisatawan asing dan domestik, antara lain Pulau Karampuan di lepas pantai Mamuju, Kuburan Tua Laksa Laga di kawasan Timbu Mamuju yang keberadaannya ditaksir telah ada sejak abad ke-11, Masjid Nurut Taubah Lapeo di Kabupaten Polman yang dibangun tahun 1909, serta Pantai Bahari Lombang-Lombang di Kelurahan Sinyonyoi, Kabupaten Mamuju.

Sayangnya obyek-obyek wisata itu terlihat tak terawat dan tak dikelola dengan baik, seperti halnya Kuburan Tua Laksa Laga. Padahal hikayat yang melatar belakangi keberadaan makam tersebut sangat menarik.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulbar, Mohammad Naim Tahir kepada ANTARA, tempat itu adalah makam seorang pangeran dari Kerajaan Bali yang diculik oleh para pelayar Mamuju pada abad ke-11.

Pangeran tersebut adalah buah perkawinan anak Raja Bali dan anak Raja Mamuju. Suatu saat, setelah sang pangeran beranjak dewasa, Raja Mamuju meminta cucunya untuk tinggal di Mamuju untuk meneruskan pemerintahan kerajaan.

Namun, Raja Bali keberatan melepaskan cucunya. Hal itu membuat marah Raja Mamuju yang kemudian membuat sayembara kepada rakyatnya -- yang merupakan pelayar-pelayar tangguh -- untuk membawa cucunya dari Bali ke Tanah Mamuju dengan segala cara dan bagi yang berhasil akan mendapatkan hadiah.

Kisah tersebut sangat menarik. Sayangnya, saat rombongan wartawan, termasuk ANTARA, berkunjung ke makam tersebut, terlihat sekali areal makam seluas 4.800 meter persegi, yang terdiri atas makam sang pangeran beserta makam 15 pengikut setianya itu tidak terurus dengan baik, ditumbuhi dengan tanaman singkong serta alang-alang.

"Biar sajalah seperti ini. Toh tanah ini milik saya, warisan keluarga turun temurun. Pihak Pemda Sulbar sendiri tidak ada perhatiannya terhadap makam ini. Tidak ada bantuan dana untuk perawatan. Saya juga sudah sejak lama tidak pernah menerima honor bulanan," kata juru kunci makam, M.Kasim (67).

Saat dikonfirmasi kepada Mohammad Naim Tahir, dia mengakui bahwa sebagai provinsi termuda di Indonesia hasil pemekaran provinsi Sulsel pada 5 Oktober 2004, Sulbar memang memiliki anggaran sektor pariwisata rata-rata per tahun hanya sekitar Rp1 milyar, jauh dari cukup untuk mendanai kegiatan pengelolaan dan promosi obyek-obyek wisata yang ada.

"Kami berharap ada investor swasta yang mau datang untuk membangun dan mengelola obyek-obyek wisata ini," kata Naim Tahir. Hal sama juga dikatakan Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh yang diwawancarai terpisah.

Ia menegaskan bahwa prioritas utama pada masa jabatannya adalah pembangunan infrastruktur, antara lain untuk membuka akses kedatangan wisatawan domestik dan asing.
Selain jalan-jalan raya yang masih banyak rusak, bandara satu-satunya
milik Sulbar yakni Tampa Padang saat ini hanya disinggahi maskapai DAS
dengan pesawat kecil seminggu dua kali dari Makassar.

Tidak ada penerbangan dari kota lain, seperti Jakarta langsung ke Mamuju. Sementara, perjalanan darat dari Bandara Hasanuddin (Sulsel) menuju Mamuju harus ditempuh sekitar delapan jam.

Panjang landasan bandara Tampa Padang ini juga dianggap masih terlalu pendek untuk bisa disinggahi pesawat-pesawat berbadan besar. Selain itu, perhotelan juga menjadi kendala. Cuma ada beberapa hotel yang layak untuk ditempati wisatawan. Demikian pula dengan warung
internet(warnet), yang bisa dikatakan sulit dicari di Mamuju.

"Jadi, bangun dulu infrastrukturnya, sesudah selesai baru kita bicara soal pariwisata," kata Adnan Saleh. Karena itu, wajar jika wisatawan domestik dan asing belum berminat datang ke Sulbar untuk menonton lomba sandeq.

Para wisatawan bahkan dari tahun ke tahun lebih suka menonton lomba ini di Makassar, saat mencapai garis "finish". Naim Tahir menargetkan tahun 2010 Sulbar menjadi salah satu daerah
tujuan utama wisatawan domestik dan asing di Indonesia, serta mendapat
limpahan kunjungan turis dari Sulsel, Sulut, dan Sulteng. (ANTARA) http://makassarkota.go.id/content/view/581/143/

Labels: , , ,