Hujan di Tengah Grand Place
Oleh Yuri Alfrin Aladdin
Grand Place di hari Minggu yang agak mendung. Musim gugur baru beberapa hari memasuki benua Eropa. Dedaunan mulai rontok. Dan kini, Winda di sini, di Grand Place, sebuah lapangan bulat yang dikelilingi bangunan-bangunan tua di Kota Brussel, Belgia.
Grand Place nan megah. Inilah lapangan tempat turis berkumpul dan berfoto dengan latar belakang bangunan klasik tinggi menjulang. Bangunan-bangunan indah abad 14 itu masih berdiri kokoh di sana, menunjukkan kejayaan Belgia pada abad silam.
Sepasang kekasih , orang Eropa, tampak memberi makan pada sekelompok burung merpati. Mereka tampak bahagia. Sang pria lalu membidikkan kameranya pada kekasihnya yang tengah memberi makan merpati. Klik. Foto itu pasti akan jadi kenangan indah cinta mereka.
Winda teringat, lima tahun lalu ia berdiri tepat di tempat si pria tersebut berdiri. Saat itu, dia membidikkan kamera pada kekasihnya, Ujang yang juga berpose memberikan makan pada merpati-merpati tersebut. “Sejarah selalu berulang walau dalam bentuk berbeda, kata sejarawan dunia Arnold Toynbee,” batin Winda.
Betul pria itu mengulang sejarah yang sama. Dia membidikkan kamera pada kekasihnya dengan pose yang sama seperti pose Ujang dulu. Bedanya, pria itu masih memiliki kekasihnya,. Sementara, Winda tengah mencari kekasihnya.
Mata Winda berkelebat mencari-cari di tengah keramaian turis di sana. Di manakah kau Ujang, katanya dalam hati. Dia berjalan terus mengitari lapangan tersebut, melewati kafe dan para pelukis yang tengah menggambar bangunan-bangunan tua tersebut.
Angin bertiup kencang di hari yang mendung. Rambut Winda sebahu berkibar indah. Sudah lima kali dilewatinya sebuah patung perunggu wanita dalam posisi tidur miring. Beberapa wisatawan berfoto dengan latar belakang patung tersebut.
Berkali-kali diperiksanya telepon selulernya. Tidak ada pesan layanan singkat dari Ujang. “Apakah dia tetap tidak mau datang untuk bertemu? Apakah dia tetap tidak mau menerima maaf atas kesalahan yang aku buat lima tahun lalu?”
***
“Aku ingin kita putus,” kata Winda pada Ujang, pada awal musim gugur lima tahun lalu di lapangan Grand Place, saat mereka pulang kuliah. Keduanya merupakan mahasiswa Indonesia penerima beasiswa dari Universite Libre de Bruxelles (ULB). Ini semester terakhir kuliah mereka. Setelah lulus, mereka harus kembali ke Indonesia.
“Apa salahku? Kamu bercanda?,” tanya Ujang terkejut. Wajahnya yang putih tampak merona. Tubuhnya yang jangkung kini tampak makin jangkung.
“Aku serius. Kamu tidak punya salah apa-apa. Aku cinta kamu setengah mati. Karena itu kita harus putus,“ tegas dia.
“Kamu gila,” kata Ujang dengan mata terbelalak.
“Betul. Kamu ingat ayahku yang baru meninggal beberapa minggu lalu? Aku cinta dia setengah mati. Aku begitu kehilangan dia. Membuatku merana kehilangan seorang yang aku cintai.”
“Lalu apa hubungannya dengan aku?”
“Kamu orang yang aku cintai. Aku tidak ingin merana kehilanganmu. Karena itu aku tidak ingin hubungan kita berlanjut. Semakin dalam cintaku padamu, akan membuat aku mati merana jika suatu saat kamu meninggalkanku.”
“Ini betul-betul ‘absurd’. Alasanmu tidak masuk akal. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu selalu mengambil kesimpulan dan keputusan terlalu cepat.”
“Kemungkinan itu ada. Kita telah berkali-kali bertengkar untuk masalah kecil. Berkali-kali pula kamu pernah mengancam akan meninggalkanku. Jadi lebih baik kita pisah sekarang, sebelum aku terlanjur cinta mati padamu.”
Awan gelap saat itu segera menyelubungi Kota Brussel. Tidak lama kemudian, hujan dengan butir-butir air sedingin es turun membasahi lapangan tersebut. Orang-orang yang tengah berfoto segera menyingkir meneduh di bawah atap bangunan tua. Burung-burung merpati terbang berpencar. Winda menarik resleting jaket hitamnya dan menarik tudung kepalanya. Dia lalu berlari menangis, meninggalkan Ujang yang terpana dan basah di tengah hujan di Grand Place.
***
Lima tahun telah berlalu. Sekembalinya mereka ke Indonesia, Winda tidak pernah bisa menghubungi Ujang. Dia menikah dengan seorang wanita rekan kerjanya dan mengganti nomor telepon genggamnya. Dia juga pindah-pindah tempat kerja sehingga Winda kehilangan jejaknya. Kabarnya, Ujang bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta yang berinduk di Belgia.
Bersyukur ada jejaring sosial “facebook”. Saat dia menjejak dengan memasukkan nama Ujang Bijaksana, nama itu mengarahkannya pada sebuah akun dan foto profil seseorang yang telah dicarinya bertahun-tahun.
Hati Winda menjerit gembira. Dia meminta pertemanan pada akun Ujang. Namun ditunggu berhari-hari, permintaan pertemanan tersebut tidak diterima. Tidak ada jalan lain. Ditulisnya sebuah pesan “inbox”. “Ujang, ini aku Winda. Aku ingin bertemu langsung denganmu. Aku ingin minta maaf atas kesalahanku dulu. Aku telah memutuskan hubungan kita dengan alasan yang ‘absurd’. Maafkan aku. Tolong, aku ingin bertemu.”
Hari demi hari berlalu tanpa jawaban. Namun, saat keputus-asaan telah menghampirinya, jawaban itu datang di inbox- nya. “Dengan mudahnya kamu memutuskan hubungan kita untuk suatu alasan yang tidak masuk akal. Dengan mudahnya pula sekarang kamu minta maaf.”
Winda menjawab lagi pesan “inbox” tersebut : “Hingga kini aku belum menikah. Aku merasa bersalah. Aku bersumpah, tidak akan menikah sebelum kamu memaafkanku secara langsung. Aku ingin bertemu.”
Jawaban datang beberapa hari kemudian. “Aku sejak beberapa bulan ini tidak di Indonesia lagi. Aku ditempatkan perusahaanku di kantor pusat di Brussel. Aku bersama istri dan putriku di Brussel. Jika kamu ingin bertemu langsung, datanglah ke Grand Place, pada bulan, tanggal, dan jam yang sama saat kamu memutuskan hubungan kita. Kutunggu kamu di sana, di tempat biasa kita duduk sepulang kuliah sambil makan kue wafel.”
Winda pun membalas pesan tersebut dengan menyebutkan nomor telpon genggamnya. Dia juga meminta nomor telpon genggam Ujang, nomor telpon rumah, kantor, serta alamat rumah dan kantornya di Brussel.
Keesokannya akun “facebook“ Ujang tiba-tiba tidak bisa lagi diakses Winda. Dia telah memblokir Winda. Sayangnya, Winda belum memperoleh nomor telpon genggam, nomor telpon kantor, rumah, atau alamat rumah dan kantor Ujang di Brussel.
Dan demi sebuah keinginan yang membungkah di dada untuk mendengar kata pemaafan dari Ujang secara langsung , Winda pun menempuh perjalanan udara beribu-ribu kilometer dari Jakarta ke Brussel.
***
Menit berganti menit, jam berganti jam. Matahari kian menua. Hingga sore Winda menunggu, namun Ujang tidak muncul di lapangan Grand Place tersebut. Airmata menetes di pipinya.
“Apa yang terjadi? Dia yang memintaku datang ke Brussel, tapi mengapa dia tak muncul?” kata Winda dalam hatinya.
Dengan langkah gontai dia berjalan ke tengah lapangan Grand Place dan berdiri di suatu titik. “Di tempat inilah .. ya di tempat inilah dulu aku tinggalkan Ujang. Dia basah kuyup .. Di tengah hujan lebat dan dingin,” kenang Winda.
Tiba-tiba pundaknya disentuh seseorang dari belakang. Ternyata seorang wanita berparas cantik berambut sepundak. Dia menggandeng putrinya yang masih kecil. Mereka asal Indonesia juga. “Apakah kamu yang bernama Winda?” tanya wanita tersebut.
“Betul, saya Winda.”
“Saya Anggi, istri Ujang,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Mohon maaf, Ujang membatalkan niatnya untuk menemuimu. Tapi dia menitipkan sebuah pesan. Dia bilang, dia memaafkanmu. Lupakanlah masa lalu. Carilah pria lain dan menikahlah. Jangan lagi menghukum dirimu sendiri”
Wanita tersebut , dan putrinya yang mirip sekali dengan Ujang, kembali bersalaman dan segera meninggalkan Winda sendiri di tengah lapangan. Tenggorokannya serasa tercekat. Airmata kembali menetes di pipinya.
Awan hitam menggumpal dan mengguyurkan hujan di atas Kota Brussel. Turis-turis yang tengah berfoto pun bubar menepi. Meninggalkan Winda sendiri terisak-isak menangis dan basah kuyup di tengah hujan deras di lapangan Grand Place.
***
Depok, 2 Mei 2010

6 Comments:
Manstabh Oom Yuuur... b^^d
Jadi pengen ke Grand Place lagi :D
thx irman...
Apa ini full intrik drama, tak ada actionnya? Novel Mushashi sudah ada serial komiknya, apa ini juga ada?. Bagi yang suka content berat, kurasa ini bagus untuk disimak....(Tosansu)
trims ya bro santo..cerpen ini cuma tulisan iseng , kisah drama yang terinspirasi kisah nyata sepasang kekasih yg juga sahabat gw di SMP 62 dulu sekitar tahun 1980..:-)
yur.....gw suka banget sm tulisanmu ini , seolah2 gw bs menhayatinya
Ini Yuni ya ? Makasih yaa yun...:-)
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home