Lembaga Pendidikan Jurnalistik

This blog will present my news stories (in Bahasa and English) , my journalistic teaching materials, my opinions , as well as my personal stories.

Sunday, September 28, 2008

Lippo Bantah Tuduhan Tidak Mau Serahkan Saham Astro


Jakarta (ANTARA News)- Pihak Lippo membantah pernyataan pihak AstroMalaysia bahwa pihaknya tidak mau menyerahkan saham 51 persen diperusahaan patungan televisi berbayar PT Direct Vision (DV).

Kelompok usaha Lippo yang diwakili pengacara Hotman Paris Hutapea diJakarta, Rabu, mengatakan bahwa pihak Astro Malaysia diduga telahmelakukan kebohongan publik karena justru merekalah yang tidak maumenandatangani perubahan anggaran dasar perusahaan DV sertamenyetorkan sisa modal investasi yang dijanjikan.

Perusahaan DV didirikan pihak kelompok usaha Lippo dengan kepemilikansaham 100 persen melalui anak perusahaannya PT Ayunda Prima Mitra,jauh sebelum pihak Astro Malaysia masuk ke Indonesia.

"Saat ini pun pihak Lippo bersedia memberikan saham 51 persen di DV.Tapi bagaimana bisa diberikan kalau mereka tidak mau menandatanganiperubahan anggaran dasar perusahaan DV, padahal undangan sudahberkali-kali diberikan. Porsi saham itu kan baru bisa diberikan kalauanggaran dasar sudah ditandatangani di depan notaris serta disahkanDepartemen Hukum dan HAM," kata Hotman.

Hotman mensinyalir bahwa alasan pihak Astro Malaysia untuk memutuskankontrak kerjasama dengan Lippo per 31 Agustus 2008 di PT DV didasariitikad buruk karena ingin memperbesar porsi saham di DV, bukan hanyasekedar 51 persen.

Menurut dia, perselisihan tersebut awalnya dipicu oleh kasus rekayasadokumen keuangan PT DV oleh para direksi, yang ditempatkan AstroMalaysia, yang mengubah dana investasi menjadi seolah-olah hutang DVkepada grup Astro Malaysia sebesar 239,27 juta dolar AS, padahal tidakpernah ada perjanjian bahwa jumlah tersebut merupakan hutang.

Dikatakan bahwa pihak Lippo telah mendaftarkan gugatan hukum ke PoldaMetro Jaya awal 2008 kepada dua orang direksi yang ditempatkan AstroMalaysia di DV, yakni Nelia Concapcion Molato, wanita asal Filipinayang telah menjadi WNI dan menjabat sebagai Presdir, serta Sean Dent,lelaki asal Australia yang menjabat sebagai direktur di DV.(*)

COPYRIGHT (c) 2008

9 Oktober 2008

Saturday, September 27, 2008

Pemenang Nobel Itu Jadi Profesor Tamu di Karawaci


06/03/08 16:27
Oleh Yuri Alfrin Aladdin

Jakarta (ANTARA News) - Wajahnya nampak letih, namun sikapnya yang rendah hati dan tutur bicaranya yang santun memikat hati para wartawan yang telah lama menunggunya di ruang konperensi pers Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Lippo Karawaci, Tangerang, Banten, Selasa (4/3).

Dia bukan selebritis, namun namanya telah demikian dikenal, terutama di kalangan dunia kedokteran. Dialah peraih hadiah Nobel bidang kesehatan tahun 2005, Prof Dr Barry J Marshall dari Australia.

Jepretan kamera serta pertanyaan wartawan yang bertubi-tubi dilayani Marshall dengan senyuman santai. Tanpa sungkan, bahkan dia mengajak wartawan untuk berfoto bersama.

"Dia itu ilmuwan `gila`. Mungkin dia satu-satunya ilmuwan yang berani meminum sendiri hasil temuannya, bakteri helicobacter pylori, dalam rangka membuktikan bahwa bakteri itu mampu hidup di perut manusia dan bisa melukai lambung. Dunia riset butuh orang-orang `gila` seperti dia," kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK-UPH) dr Eka J Wahjoepramono, SpBS.

Kedatangan Marshall -- yang saat ini bekerja sebagai Senior Principal Research Fellow di Fakultas "Biomedical, Biomolecular and Chemical Sciences" University of Western Australia (UWA) -- di Indonesia selama 3-5 Maret 2008, disponsori oleh Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK-UPH), RS Siloam, dan Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN).
Ceramah Marshall dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama pukul 09.00 WIB bertajuk "The Excitement of Science and the Nobel Prize" untuk para mahasiswa UPH dan umum di Grand Chapel UPH.

Sementara, sesi kedua pukul 12.00 WIB bertajuk "Past Lessons and New Opportunities for Helicobacter pylori" digelar di lembaga penelitian Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Lippo Karawaci.

Masing-masing sesi ceramah tersebut dihadiri hampir sekitar 2.000 orang, terdiri atas kalangan mahasiswa dan ilmuwan bidang kedokteran.

Pada kesempatan jumpa pers dengan wartawan di kantor MRIN, Selasa (4/3) dia mengatakan bahwa dirinya terkesan dengan sikap antusiasme yang ditunjukkan para mahasiswa FK-UPH saat mendengarkan ceramahnya pada sesi pertama.

Dia berharap akan banyak generasi muda yang nantinya tertarik menekuni bidang penelitian meskipun pendapatan yang diterima tidak besar. Menurut dia, untuk menjadi peneliti yang andal, dibutuhkan rasa ingin tahu yang besar terhadap obyek penelitian serta gigih dalam bereksperimen.

Marshall mengakui bahwa generasi muda saat ini kurang berminat untuk terjun di bidang penelitian, terutama bidang kedokteran.

Karena itu, kata dia, salah satu cara untuk membuat kalangan generasi muda di Indonesia tertarik terjun menjadi peneliti adalah dengan memberikan gaji yang pantas.
"Naikkan gaji sebagai peneliti. Dengan demikian , mereka tertarik menjadi peneliti karena mendapat penghargaan dari lingkungannya," kata Barry J Marshall.

Dia mengakui bahwa gaji sebagai peneliti memang tidak sebesar seperti gaji seorang dokter spesialis jantung. Pendapatan seorang peneliti biasanya baru lumayan besar jika bekerja di lembaga penelitian perusahaan swasta atau telah memiliki hak paten.

"Pendapatan yang saya terima sebagai seorang ilmuwan peneliti di Australia juga tidak besar," kata dia. Ketika ditanya wartawan berapa gajinya sebagai peneliti di Australia, sambil tertawa dia menjawab, "Zero".

"Visiting Professor"

Pada kesempatan itu, dilakukan penandatanganan sebuah kesepakatan oleh Rektor UPH Ir Jonathan L Parapak dan Barry J Marshall yang menyatakan kesediaan peraih Nobel tersebut menjadi "visiting professor" (gurubesar tamu) di FK-UPH.

Penandatangan tersebut dihadiri pula oleh Chief Executive Officer (CEO) RS.Siloam dr.Gershu Paul, Konsultan Pemasaran RS.Siloam Andrew Mills, Presiden Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), Prof Susan SW Tai, Rektor, Dekan FK-UPH dr Eka J Wahjoepramono, SpBS, dan pendiri kelompok bisnis Lippo Mochtar Riady.

"Kesepakatan ini tidak ada jangka waktunya. Pokoknya selama beliau kuat, beliau akan menjadi `visiting professor` di UPH," kata Jonathan Parapak.

Pada kesempatan sama, Dekan FK-UPH dr Eka J Wahjoepramono mengharapkan sebagai profesor tamu ("visiting professor") Barry Marshall dapat memberikan kuliah umum sebanyak dua kali setahun.

Marshall, saat ditanya ANTARA mengenai kesediaannya menjadi "visiting professor" di UPH menjawab bahwa dia mengharapkan adanya kerjasama penelitian antara lembaga tempat penelitiannya di Australia dengan MRIN untuk masalah penyakit tropis dan pertukaran tenaga pengajar antara UWA dan UPH.

Mengapa UPH sangat antusias meminta Marshall menjadi "visiting professor" di universitas tersebut ?

"Ada pepatah bijaksana mengatakan, gunung itu tidak perlu tinggi, tapi yang penting ada dewanya," bisik Mochtar Riady, pendiri kelompok usaha Lippo, sekaligus pendiri Universitas Pelita Harapan (UPH).

"Ini suatu kebanggaan besar untuk UPH. Mungkin satu-satunya universitas di Indonesia yang memiliki `visiting professor` seorang pemenang hadiah Nobel," kata Mochtar Riady.
Penelitian Prof Marshall yang mengantarkannya pada penghargaan Nobel bidang kesehatan berpangkal dari keprihatinan terhadap maraknya penyakit gastritis dan luka di lambung yang diderita oleh hampir 50 persen penduduk dunia hingga saat ini.

Pemikiran konvensional hingga tahun 1982 di kalangan ilmuwan kedokteran menyebutkan bahwa tidak ada bakteri yang dapat hidup di perut manusia karena perut manusia memproduksi asam dalam jumlah banyak yang kadarnya sama dengan kekuatan asam di aki mobil.

Dr.Barry Marshall lalu bekerjasama dengan rekannya Dr J Robin Warren dari Perth , Australia Barat, meneliti masalah tersebut hingga tahun 1982 mereka menemukan adanya bakteri yang disebut helicobacter pylori (H.Pylory) yang dapat hidup di perut dan menjadi penyebab berbagai penyakit infeksi lambung, bahkan dapat menjadi faktor penyebab kanker perut.

Dalam upayanya membuktikan bahwa bakteri tersebut yang menjadi penyebab penyakit infeksi lambung, Marshall bahkan pada tahun 1984 --saat masih bekerja di Fremantle Hospital -- meminum sendiri organisme H.pylori yang telah dikembangbiakkan.

Penelitiannya juga berujung pada temuan kombinasi obat-obatan yang dapat membunuh bakteri H pylori dan menyingkirkan luka di lambung secara permanen.

Kerja keras pasangan peneliti Barry J Marshall dan J Robin Warren akhirnya mengantarkan mereka pada penghargaan Nobel bidang kesehatan tahun 2005, sekitar 23 tahun sejak temuan pertama mereka terhadap bakteri tersebut.(*)

Copyright © 2008 ANTARA

http://www.antara.co.id/arc/2008/3/6/pemenang-nobel-itu-jadi-profesor-tamu-di-karawaci/

Labels: , , , , ,

Thursday, September 25, 2008

Ketua Deperpu PDIP Berdialog dengan Warga


Jakarta (ANTARA News) - Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Taufik Kiemas meresmikan bangunan Posko PDI-P ranting Pademangan Timur di Kecamatan Pademangan, Kemayoran, Jakarta, Kamis malam, serta berdialog dengan warga partai berlambang banteng yang tinggal di sekitar kawasan itu.


"Posko ini didirikan dengan tujuan sebagai tempat warga berdialog, membicarakan nasib mereka. Petugas Posko sudah kami tugaskan untuk mendengar dan mencatat segala pengaduan masyarakat, untuk selanjutnya aspirasi rakyat kecil itu akan kami perjuangkan," kata Taufik Kiemas dalam sambutannya saat meresmikan Posko tersebut.

Acara itu dihadiri sekitar 2.000 warga PDI-P sekitar Kecamatan Pademangan dan peresmian Posko tersebut didahului dengan acara buka puasa bersama dilanjutkan dengan dialog.
Hadir pada kesempatan tersebut Ketua DPD PDI-P DKI Adang Rohyatna serta anggota DPR-RI dari Fraksi PDIP, Effendi MS Simbolon.

Pada acara dialog tersebut, seorang ibu menyatakan kepada Taufik Kiemas bahwa dirinya sejak dulu telah mendukung Megawati dan PDI-P.

"Karena itu, mohon nasib rakyat kecil diperhatikan. Saya minta diperjuangkan agar harga sembako dapat stabil kembali, tidak seperti sekarang, semua harga naik terus," kata ibu tersebut mengeluh.

Dalam sambutannya, Taufik Kiemas menyampaikan pesan istrinya yang juga Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang merasa prihatin dengan situasi sulit yang dialami ibu-ibu rumah tangga saat ini karena harga-harga bahan-bahan kebutuhan pokok semakin mahal.

"Karena itu, gunakan hak pilih anda dengan baik pada 2009 nanti. Tahun 2004 lalu kita kalah di Pademangan. Karena itu, mari menangkan tahun 2009. PDI-P berjanji harga-harga sembako akan terjangkau," kata Taufiek Kiemas.(*)

Copyright © 2008 ANTARA

Labels: , , , ,

Wednesday, September 24, 2008

Nilai Ekspor TPT Naik 6,16 Persen


Pacitan (ANTARA News) - Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT)Indonesia Pada periode Januari-Juli 2008 mencapai 6,065 juta dolar ASatau naik 6,16 persen dibanding pada periode sama 2007 sebesar 5,713juta dolar AS.

Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan DepartemenPerdagangan, Hartojo Agus Tjahjono, di Pacitan, Jumat, mengatakanbahwa ekspor TPT telah memberikan sumbangan sebesar 22,38 persenterhadap total nilai ekspor non migas dan 14,45 persen terhadap nilai ekspor sektor industri.


Selama lima tahun terakhir (2003-2007) nilai ekspor tekstil dan produktekstil (TPT) rata-rata sebesar 12,45 persen per tahun terhadap sektornon migas dan sebesar 14, 81 persen per tahun terhadap sektorindustri.

Agus menegaskan bahwa kunci keberhasilan menerobos pasar global yangsemakin kompetitif, antara lain melalui peningkatan efisiensiproduksi, produktivitas, dan penguatan daya saing produk TPT.

Pada kesempatan itu, Departemen Perdagangan (Depdag) diwakili HartojoAgus Tjahjono menyerahkan bantuan peralatan mesin jahit dan bordirsebanyak 75 unit senilai Rp250 juta kepada kelompok usaha kecil danmenengah (UKM) di Desa Gayuhan, Arjosari. Kabupaten Pacitan.

"Bantuan ini bertujuan untuk mendukung UKM agar dapat menghasilkanproduk tekstil berkualitas," kata Hartojo Agus Tjahjono saatpenyerahan bantuan tersebut.

Bantuan yang diberikan meliputi mesin bordir (speed 2000 rpm), mesinjahit (speed 5000 rpm), mesin jahit klasik (standar), jahit typical(5000 rpm) dan alat potong yang diserahkan langsung oleh Hartojo Aguskepada Bupati Pacitan, H Sujono.

"Pemanfaatan mesin secara efektif dan optimal akan dapat meningkatkankualitas produk UKM, meningkatkan kapasitas dan jumlah produksi sertameningkatkan ekonomi masyarakat sekitar," kata dia.

"Mesin jahit dan bordir ini diharapkan dapat membantu para pelaku UKMtekstil dan kerajinan bordir memproduksi barang berkualitas ekspordengan desain dan mutu yang memenuhi standar pasar internasional,"kata Hartojo Agus.

Dikatakan bahwa disamping memberikan bantuan berupa peralatan, Depdagterus berusaha meningkatkan daya saing perajin, baik melaluipelatihan-pelatihan, promosi dan pameran serta memfasilitasi pertemuanantara pelaku UKM dengan calon pembeli dari mancanegara.

Hartojo Agus menjelaskan bahwa hingga saat ini pihaknya memang belumpernah melakukan evaluasi terinci atas efektivitas bantuan yang selamaini diberikan kepada UKM-UKM se-Indonesia.

"Namun pengamatan sekilas selama ini menunjukkan bantuan-bantuantersebut sangat bermanfaat meningkatkan produktifitas para UKMtersebut," kata dia.
Sementara itu, Mahmudin , dari UKM Rajut Makmur sub UKM Gayuh Tailormenyatakan kegembiraannya karena kelompoknya memperoleh satu mesinbordir dan dua mesin jahit standar.

Dia mengharapkan bantuan tersebut akan makin meningkatkanproduktifitas kelompoknya yang beranggotakan tujuh orang dan rata-rataperbulan memperoleh pendapatan bersih Rp2 juta.(*)
COPYRIGHT (c) 2008
http://www.antara.co.id/arc/2008/9/19/nilai-ekspor-tpt-naik-6-16-persen/

Labels: , ,

Ronny Pattinasarany Dimakamkan sebagai "Pahlawan" Sepak Bola


Jakarta (ANTARA News) - Bintang sepakbola Indonesia tahun 1970-an Ronny Pattinasarany atau bernama asli Roland Hermanus Pattinasarany, dimakamkan di area Heroes` Plaza (Plaza Para Pahlawan) Taman Pemakaman San Diego Hills (SDH), Karawang Barat, Jawa Barat, sekitar pukul 15.00 WIB, Minggu.


Pemakaman tersebut dihadiri oleh ratusan kerabat, pejabat serta fungsionaris PSSI , antara lain Ketua Kehormatan PSSI Agum Gumelar, serta sahabat Ronny semasa masih menjadi pemain sepakbola tahun 1970-an, antara lain Risdianto, Rully Nere, dan Herry Kiswanto.


Di deretan tempat duduk keluarga inti almarhum, tampak ibunda Ronny, Ny.Olie, istri almarhum Ny.Stella Maria, serta empat orang anaknya, Benny, Yerry, Cita dan Pieter. Pada kesempatan itu, Ny.Olie dan Benny tampak duduk di atas kursi roda.


Almarhum Ronny Pattinasarany mendapat kehormatan dari pihak SDH untuk dimakamkan di kawasan `Heroes` Plaza, sebuah kawasan di taman pemakaman tersebut yang dikhususkan untuk orang-orang yang berjasa kepada Tanah Air.


Pihak keluarga yang dimakamkan di kawasan tersebut tidak perlu membayar lahan pemakaman dan biaya perawatan selamanya.


Acara pemakaman tersebut diwarnai keharuan saat Ketua Kehormatan PSSI Agum Gumelar menyerahkan bendera Merah Putih kepada istri almarhum, Ny.Stella Pattinasarany, sebagai pengakuan atas jasa-jasa almarhum dalam memajukan persepakbolaan Indonesia.


Dengan mata berkaca-kaca, Stella Maria sambil duduk mendekap erat bendera tersebut di dadanya, memejamkan mata, diam terpaku tidak memperdulikan bidikan para wartawan foto.
Saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat, beberapa pelayat sempat menitikkan air mata menyaksikan ibunda Ronny, Ny.Olie menangis keras seraya mengatakan berkali-kali, "Ron, selamat jalan...selamat jalan."


Sementara itu, dalam sambutannya Agum Gumelar menyatakan bahwa almarhum Ronny Pattinasarany telah berjasa memajukan dunia persepakbolaan Indonesia sekaligus menjadikan dirinya sebagai seorang legendaris sepakbola Indonesia.


"Mari lanjutkan prestasi yang telah dibuat almarhum," kata Agum.


Ronny Pattinasarany meninggal dunia pada Jumat (19/9) sekitar pukul 13.30 WIB di RS.Omni Batavia Medical Center Pulomas, Jakarta Timur, setelah berjuang melawan penyakit kanker pankreas dan hati sejak diketahui mengidap penyakit itu pada Desember 2007.

Menurut catatan ANTARA News, perjalanan karir pria kelahiran Ambon, Maluku, 9 Februari 1949 tersebut, dimulai saat dia menjadi pemain sepakbola di klub Persatuan Sepakbola Makasar (PSM) Junior tahun 1966. Hanya dalam tempo dua tahun dia berhasil masuk tim inti PSM Makassar.

Dari Makassar, Ronny pindah ke Klub Warna Agung (1978-1982) dan menyabet berbagai penghargaan. Tahun 1982 dia pindah lagi ke klub Tunas Inti dan setahun kemudian gantung sepatu beralih profesi menjadi pelatih.

Beberapa klub yang telah dilatih Ronny, antara lain Persiba Balikpapan, Krama Yudha Tiga Berlian, Persita Tangerang, Petrokimia Gresik, Makassar Utama, Persitara Jakarta Utara dan Persija Jakarta.

Saat melatih Petrokimia, Ronny berhasil membawa klub tersebut memenangkan berbagai piala kejuaraan.(*)


Labels: , ,

Tuesday, September 16, 2008

Two Mindanawon Journalists are Among New Fellows for MA Journ


MindaNews
Tuesday, 15 July 2008 09:37

DAVAO CITY (MindaNews/14 July) – Two female Mindanawon journalists, both based in Davao City, are among 13 journalists in Asia who have been awarded fellowships for Master of Arts in Journalism at the Ateneo de Manila University’s Konrad Adenauer Foundation Asian Center for Journalism (ACFJ).

Germelina Lacorte, associate editor of davaotoday.com and Debbie Uy, editor in chief of Mindanao Insider, are among seven Filipinos awarded fellowships starting school year 2008-2009. Lacorte is also a correspondent of the Philippine Daily Inquirer while Uy is also editor in chief of Go South magazine.

The fellows were presented formally at the alumni homecoming dinner Saturday at the Paparazzi restaurant at EDSA Shangrila at the Ortigas Center in Mandaluyong City.
The MA Journalism fellowships cover full tuition and miscellaneous fees, as well as expenses during two periods of on-campus stay such as travel, accommodation, and living expenses.
Uy was among eight who received the “Fellowships for Emerging Leaders in Asian Newsroom,” chosen “for their career records as well as their potential to contribute to the development of an independent, responsible and viable press in their communities.”

Lacorte, on the other hand was among four who received “Senior Fellowships,” chosen for their “outstanding careers and their contribution to the growth of the press in their communities.”
As of March 2008, some 60 working journalists from Cambodia, China , India , Indonesia , Malaysia , the Philippines and Sri Lanka have earned the degree first offered in 2003. ACFJ also offers diploma programs in photojournalism and radio journalism.

Lacorte and Uy are the second and third Mindanawons awarded a fellowship in the MA Journalism program. The first was MindaNews’ Carolyn O. Arguillas who was awarded a Senior Fellowship. Arguillas graduated in March 2007 and joined the faculty in the second semester of 2007-2008, teaching “Reporting about Conflict and Peace.”

In the Diploma in Photojournalism program, eight Mindanawons, all male, have been awarded the fellowship, four of whom have completed the course: MindaNews’ Froilan Gallardo of Cagayan de Oro City, now editor in chief of SunStar Cagayan de Oro and Charlie Saceda, Zamboanga City-based photojournalist of Philippine Star.

Gallardo and Saceda were part of the first batch and graduated summer last year. In the second batch, former MindaNews reporter Keith Kristoffer Bacongco of Pigcawayan, North Cotabato, now campaign officer of the Legal Resources Center (LRC) in Davao and Jose Aurelio “Toto” Lozano of Koronadal City, completed the requirements of the course summer this year and will graduate on August 1 this year.


Four other Mindanawon photojournalists are still completing the course: Rene B. Lumawag, who recently retired from SunStar Davao, and Rommel Rebollido of General Santos, a bureau chief of Philippine News Agency. MindaNews contributor Gandhi Kinjiyo of General Santos City and lawyer Glocelito Jayma of Butuan, formerly with LRC, now in private practice have just started the course. Kinjiyo is the lone Moro fellow.

Aside from Lacorte and Uy, the other MA Journalism fellows from the Philippines are Jennifer Alejandro, presently based in Singapore where she works as producer, reporter and business news anchor, senior manager, News and Current Affairs of Channel News Asia; Ruth Ann D. Cabal, news produce of GMA Network, Inc.; Iris Cecilia D. Gonzales, reporter of the Philippine Star; Hector Bryant L. Macale of Bulacan, senior staff writer of the Center for Media Freedom and Responsibility; and Alexander F. Villafania, reporter of Inquirer Interactive, Inc.

From Indonesia, the fellows are Yuri A. Aladdin of West Java, senior editor of the Antara News Agency where he also serves as Instructor in the Antara School of Journalism, and coordinator of reporters; .Fransiscus Xaverius Lilik D. Mardjianto of Jakarta, also of Antara News Agency; and Kurniawan Sisnoko of the Jakarta Post.

The other fellows are Senthong Phavasath of Vientiane, reporter and sub-editor of KPL News, Laos News Agency; Sam Noeun, executive producer of Radio FM 102 in Cambodia; and Pratibha Tuladhar, news anchor and sub-editor of Kantipur Television of Nepal. (MindaNews)
http://www.mindanews.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4741&Itemid=240

Labels: , , ,

Sunday, September 14, 2008

Yuri Alfrin Aladdin - Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara - Antara School of Journalism: A Day in Quiapo and Makati

Yuri Alfrin Aladdin - Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara - Antara School of Journalism: A Day in Quiapo and Makati